BAB II
GAYA PEMBELAJARAN
A. Pengertian MetodePembelajara
Kata metodeberasaldaribahasaYunaniyaitu “Methodos” yang
berarticaraberaniataucaraberjalan yang di tempuh. MenurutWinarnoSurakhmad,
metodeadalahcara yang didalamfungsinyamerupakanalatuntukmencapaisuatutujuan(
1976 : 74 ). Sedangkanpengertianpembelajaranadalah proses
interaksipesertadidikdenganpendidikdansumberbelajarpadasuatulingkunganbelajar.
MenurutNursidSuaatmadja, metodepembelajaranadalahsuatucara yang
fungsinyamerupakansuatualatuntukmencapaitujuan( 1984 : 95 ). Menurut S Hamid
Hasan, metodepengajaranadalahsuatucara yang
digunakanuntukmemberikankesempatanseluas – luasnyakepadasiswadalambelajar( 1992
: 4).
Dari duapengertiandiatasdapat di
simpulkanbahwametodepengajaranituadalahsuatucara yang digunakanoleh guru agar
siswadapatbelajarseluas – luasnyadalamrangkamencapaitujuanpengajaransecaraefektif.
Didalam proses belajarmengajara di perlukansuatumetode yang
sesuaidengansituasidankondisi yang ada.
Metodepembelajaranseharusnyatepatgunayaitumampu mengarahkansianakdidikuntukbelajarsendirisesuaidengan Student
Active Learning (SAL).
B.
Gaya
pembelajaran
Gaya untuk
pembelajaran cukup beraneka ragam. Keanekaragaman meliputi klasifikasi maupun
penamaan suatu metode bahkan juga tingkat daya guna dan hasil guna suatu
metode. Secara garis besar, metode pembelajaran dapat di klasifikasikan sbagai
brikut :
1.
Gaya
Pembelajaran Self Check Style (Periksa Diri)
Metode
periksa diri lebih banyak keputusan yang digeser ke siswa.Kepada siswa sekarang
diberikan keputusan sesudah pertemuan untuk menilai penampilannya. Dengan
metode ini memungkinkan siswa menjadi lebih mandiri dalam melaksanakan
tugasnya.
a.
Peranan Siswa
1) Menilai
penampilannya sendiri.
2) Menetapkan
kriteria untuk memperbaiki penampilannya sendiri.
3) Belajar
bersikap obyektif terhadap penampilannya.
4) Belajar
menerima keterbatasannya.
5) Membuat
keputusan baru dalam bagian pelajaran selama dan sesudah pertemuan.
b.
Implikasi Metode Periksa Diri
1) Guru
mendorong kemandirian siswa.
2) Guru
mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan memantau sendiri.
3) Guru
mempercayai siswa.
4) Guru
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada proses periksa sendiri dan
pelaksanaan tugas.
5) Siswa
belajar sendiri.
6) Siswa
mengenali keterbatasannya, keberhasilannya dan kegagalannya sendiri.
7) Siswa
memakai umpan balik dari hasil periksa sendiri untuk mengusahakan perbaikan.
2.
Gaya PembelajaranInklusi
(Inclusion Style)
Metodemengajarinklusimemperkenalkanbeberapatingkattugas,
metodeinklusimemberikantugas yang
berbeda-bedatingkatannya.Dalammetodeinisiswadidoronguntukmenentukantingkatpenampilannya.
Contohdarimetodeinklusidapatdilihatdaripenggunaantaliuntukmelompat.Jikatalidipentangkansetinggi
1 meter daritanah, dansetiapsiswadimintauntukmelompatinya,
semuasiswaakanberhasil. Akan tetapikeberhasilantidakdiperolehsemuasiswadengantingkatkesulitan
yang sama. Sebagiansiswaakanmelompatinyadenganmudah,
sedangkansebagianlagiharusmengerahkankemampuannyauntukmelompatitali.Jikaketinggiantalidinaikkan,
kesulitandalamtugasakanmeningkatdanakhirnyaakanmenyebabkanmakinsedikitjumlahsiswa yang
akanberhasilmelompatinya.
Sekarang, jikatalidirentangkan miring
danparasiswadiperintahkanuntukmelompat,
parasiswaakanmenyebarsepanjangtalipadaberbagaiketinggian. Hal
iniakanmemungkinkanuntukmelibatkanparasiswadenganberbagaitingkatkemampuannya..inijugaakanmemungkinkanparasiswauntukmemilihdimanadiaakanmemulaitugasnya.
a. TujuanMetodeInklusi
ü Melibatkansemuasiswa.
ü Penyesuaianterhadapperbedaanindividu.
ü Memberikesempatanuntukmemulaipadatingkatkemampuansendiri.
ü Memberikesempatanuntukmemulaibekerjadengantugas-tugas yang
ringankeberat, sesuaidengantingkatkemampuansiswa.
ü Belajarmelihathubunganantarakemampuanmerasadantugasapa yang
dapatdilakukanolehsiswa
ü Individualisasidimungkinkan, karenamemilihdiantara alternative tingkattugas
yang telahdisediakan.
b.
PelaksanaanMetodeInklusi
ü Menjelaskanmetodeinikepadasiswa.
Satudemonstrasidenganmenggunakantali yang miring akanmemberikanilustrasi yang
sagatbagus.
ü Siswadisuruhmemulai
ü Amati danmemberiwaktubagisiswauntukmelakukanmetodeini
ü Memberiumpanbalikkepadasiswatentangperanansiswadalampengambilankeputusandalampengambilankeputusanmemilihtugas-tugas
:
-
Tanyakanbagaimanamerekamemilihtugas-tugas
-
Fokuskanperhatian-padapenggunaanumpanbalik
yang netral, agar siswamengambilkeputusanmengenaitaraftugas yang
sesuaidengankemampuannya.
-
Amati
kesalahan-kesalahandalampenampilansiswadankriteria yang menyangkutpenampilandalamtugasnya.
c.
Implikasimetodeinklusi
ü Salah satukeuntungan yang
sangatpentingdarimetodeiniadalahmemperhatikanperbedaanindividudanmemperhatikankemungkinan-kemungkinanuntukmajudanberhasil
ü Memungkinkansiswauntukmelihatketidaksesuaianantaraaspirasiataupengetahuanmerekadengankenyataan.
Merekaakanbelajaruntukmengurangikesenjanganantarakeduahalini.
ü Fokusperhatianditujukankepadaindividudanapa yang
diadapatlakukandaripadamembandingkannyadengan orang lain.
ü siswamengembangkankonsepmerekasendiri yang berkaitandenganpenampilanfisik.
d. Memilih Dan MerancangPokokBahasan
ü Konseptentangtingkatkesulitan. Tugas-tugas yang
dipilihharusdimulaidari yang sederhanakeyanglebihunik,
dengantiaptugasmempunyaitingkatkesulitan yang ditambahkan.
ü Jikakitamenggunakanmenembakdalam bola basket
sebagaicontohdaribeberapafaktor yang mempengaruhikesulitanadalah :
-
Rentanganjarakdari minimum
kemaksimum
-
Tingginya basket
-
Ukuranlingkarandanukuran bola
-
Suduttembakan, dll.
ü Kisi-kisifaktorberikutdapatdipakaisebagaialatuntukmenganalisistugas-tugasmenentukantingkatkesulitan.
3.
Gaya
Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Teknik penemuan adalah terjemahan dari
discovery. Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa memampu
mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses
mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti,
menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan
dan sebainya. Suatu konsep misalnya: segi tiga, pans, demokrasi dan sebagainya,
sedang yang dimaksud dengan prisnsip antara lain ialah: logam apabila
dipanaskan akan mengemabang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri
atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan
instruksi.
Dr. J. Richard dan asistennya mencoba
self-learning siswa (belajar sndiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar
berpindah dari situsi teacher learning menjadi situasi student dominated
learning. Dengan menggunakan discovery learning, ialah suatu cara mengajar yang
melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan
diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri. Agar anak dapat belajar
sendiri.
Penggunaan teknik discovery ini guru berusaha
meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, Maka teknik ini
memiliki keuntungan sebagai berikut:
-
Teknik ini mampu membantu siswa untuk
mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam
proses kognitif/pengenalan siswa.
-
Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat
sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa
siswa tersebut.
-
Dapat membangkitkan kegairahan belajar
mengajar para siswa.
-
Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengankemampuannya masing-masing.
-
Mampu mengarahkan cara siswa belajar,
sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
-
Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah
kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Strategiituberpusatpadasiswatidakpada guru. Guru
hanyasebagaitemanbelajarsaja, membantubiladiperlukan.
Walalupundemikianbaiknyateknikinitohmasihada
pula kelemahan yang perludiperhatikanialah:
-
Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan
mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk
mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.
-
Bila kelas terlalu besar penggunaan teknikini
akan kurang berhasil.
-
Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan
perencaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti
dengan teknik penemuan.
-
Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa
proses mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu
mementingkan proses pengertiansaja, kurang memperhatikan
perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
-
Teknik ini mungkin tidak memberikan
kesempatan untuk berpikir secara kreatif.
Metodepembelajaran
discovery (penemuan) adalahmetodemengajar yang
mengaturpengajaransedemikianrupasehinggaanakmemperolehpengetahuan yang
sebelumnyabelumdiketahuinyaitutidakmelaluipemberitahuan,
sebagianatauseluruhnyaditemukansendiri.Dalampembelajaran discovery (penemuan)
kegiatanataupembelajaran yang dirancangsedemikianrupasehinggasiswadapatmenemukankonsep-konsepdanprinsip-prinsipmelalui
proses mentalnyasendiri. Dalammenemukankonsep, siswamelakukanpengamatan,
menggolongkan, membuatdugaan, menjelaskan,
menarikkesimpulandansebagainyauntukmenemukanbeberapakonsepatauprinsip.
Metode discovery
diartikansebagaiprosedurmengajar yang mementingkanpengajaranperseorang,
memanipulasiobjeksebelumsampaipadageneralisasi.Sedangkan Bruner
menyatakanbahwaanakharusberperanaktifdidalambelajar.Lebihlanjutdinyatakan, aktivitasituperludilaksanakanmelaluisuatucara
yang disebut discovery.
Discovery yang
dilaksanakansiswadalam proses belajarnya, diarahkanuntukmenemukansuatukonsepatauprinsip.Discovery
ialah proses mental dimanasiswamampumengasimilasikansuatukonsepatauprinsip.
Proses mental yang dimaksudantara lain:mengamati, mencerna, mengerti,
menggolong-golongkan, membuatdugaan, menjelaskan, mengukur, membuatkesimpulandansebagainya.
Denganteknikinisiswadibiarkanmenemukansendiriataumengalami
proses mental sendiri, guru hanyamembimbingdanmemberikanintruksi.
Dengandemikianpembelajaran discovery ialahsuatupembelajaran yang
melibatkansiswadalam proses kegiatan mental melaluitukarpendapat,
denganberdiskusi, membacasendiridanmencobasendiri, agar anakdapatbelajarsendiri.
Metodepembelajaran
discovery merupakansuatumetodepengajaran yang
menitikberatkanpadaaktifitassiswadalambelajar.Dalam proses
pembelajarandenganmetodeini, guru hanyabertindaksebagaipembimbingdanfasilitator
yang mengarahkansiswauntukmenemukankonsep, dalil, prosedur,
algoritmadansemacamnya.
Tigaciriutamabelajarmenemukanyaitu:
a.
mengeksplorasi
dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan
b.
Berpusat
pada siswa
c.
kegiatan
untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake
et al membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell
mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu:
a.
mengklarifikasi
b.
menarik
kesimpulan secara induksi
c.
pembuktian
kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah
pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
a.
identifikasi
kebutuhan siswa;
b.
seleksi
pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi
pengetahuan;
c.
Seleksi
bahan, problema/ tugas-tugas;
d.
membantu
dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing
siswa;
e.
mempersiapkan
kelas dan alat-alat yang diperlukan;
f.
mengecek
pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
g.
memberi
kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
h.
membantu
siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
i.
memimpin
analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi
masalah;
j.
merangsang
terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
k.
membantu
siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah
satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah
yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini:
a.
Merupakan
suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif;
b.
Dengan
menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang
diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa;
c.
Pengertian
yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah
digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;
d.
Dengan
menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah
yang akan dapat dikembangkan sendiri;
e.
Siswa
belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi
sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa keuntungan
belajar discovery yaitu:
a.
pengetahuan
bertahan lama dan mudah diingat;
b.
Hasil
belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya;
c.
Secara
menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk
berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih
keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah
tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan
metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai
berikut:
a.
Siswa
aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk
menemukan hasil akhir;
b.
Siswa
memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya.
Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
c.
Menemukan
sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan
penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
d.
Siswa
yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer
pengetahuannya ke berbagai konteks;
e.
Metode
ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
4.
Gaya Pembelajaran Pemecahan Masalah yang
Efektif
Reys, et.al. (1989) menjelaskan pembelajaran
pemecahan masalah dapat efektif dan sesuai dengan tujuan, diperlukan beberapa
faktor pendukung yaitu: perencanaan, waktu, sumber belajar-media,
pengelolaan kelas serta teknologi. Perencanaan waktu harus efektif dan
disesuaikan dengan kemampuan dan proses berpikir siswa. Guru setidaknya mampu
memperkirakan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan
beberapa soal. Guru perlu menyiapkan alat-alat peraga manipulatif untuk siswa
dalam membantu memahami dan memecahkan masalah.
Hal penting yang perlu diperhatikan
juga adalah pengelolaan kelas termasuk juga aktivitas siswa. Guru merancang
pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah dapat secara individu, klasikal atau
kelompok. Yang paling sesuai dengan kegiatan pemecahan masalah adalah kerja
kelompok yang mana siswa dapat berdiskusi, bertukar pikiran untuk
memecahkan persoalan, di samping itu mengajarkan siswa untuk bekerja sama dalam
menghadapi permasalahan.
Rangkuman hasil
penelitian tentang pembelajaran pemecahan masalah yang dilakukan oleh Reys:
-
Strategi
pembelajaran pemecahan masalah harus diajarkan secara khusus sampai siswa dapat
memecahkan permasalahan dengan benar.
-
Beberapa macam
strategi dapat digunakan dalam setiap tahapan pemecahan masalah karena tidak
ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh permasalahan.
-
Siswa dapat
dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal, atau menggunakan
beberapa strategi untuk suatu persoalan.
-
Siswa perlu
dilatih menghadapi masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya dan
harus didorong untuk mencoba dengan berbagai alternatif pendekatan
pemecahan.
-
Perkembangan siswa
berhubungan dengan kemampuan dan prestasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu,
tingkat kesulitan masalah yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
a. Penilaian
dalam Pemecahan Masalah
Penilaian untuk pembelajaran pemecahan
masalah harus dapat menilai keseluruhan proses pemecahan masalah.
Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. Jika soal
ditampilkan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin, maka penilaian yang
dilakukan berkaitan dengan keduanya.
Krulik dan Rudnik (1995) menjelaskan beberapa
metode penilaian untuk pembelajaran pemecahan masalah, yaitu : observasi,
jurnal meta kognitif, paragraf kesimpulan (summary paragraph), test, dan
portofolio. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda, masalah-masalah
terbuka (open ended), dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa
dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak.
Penilaian terhadap tes kinerja dapat
menggunakan rubrik, baik rubrik holistik maupun rubrik analitik.
b. Merumuskan
masalah
Merumuskan
masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung
teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
memecahkan teka-teki itu.
Teka-teki
dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari
jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam
pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar