Senin, 24 September 2012


BAB II
GAYA PEMBELAJARAN
A.    Pengertian MetodePembelajara
Kata metodeberasaldaribahasaYunaniyaitu “Methodos” yang berarticaraberaniataucaraberjalan yang di tempuh. MenurutWinarnoSurakhmad, metodeadalahcara yang didalamfungsinyamerupakanalatuntukmencapaisuatutujuan( 1976 : 74 ). Sedangkanpengertianpembelajaranadalah proses interaksipesertadidikdenganpendidikdansumberbelajarpadasuatulingkunganbelajar. MenurutNursidSuaatmadja, metodepembelajaranadalahsuatucara yang fungsinyamerupakansuatualatuntukmencapaitujuan( 1984 : 95 ). Menurut S Hamid Hasan, metodepengajaranadalahsuatucara yang digunakanuntukmemberikankesempatanseluas – luasnyakepadasiswadalambelajar( 1992 : 4).
 Dari duapengertiandiatasdapat di simpulkanbahwametodepengajaranituadalahsuatucara yang digunakanoleh guru agar siswadapatbelajarseluas – luasnyadalamrangkamencapaitujuanpengajaransecaraefektif. Didalam proses belajarmengajara di perlukansuatumetode yang sesuaidengansituasidankondisi yang ada. Metodepembelajaranseharusnyatepatgunayaitumampu mengarahkansianakdidikuntukbelajarsendirisesuaidengan Student Active Learning (SAL).

B.     Gaya pembelajaran
Gaya  untuk pembelajaran cukup beraneka ragam. Keanekaragaman meliputi klasifikasi maupun penamaan suatu metode bahkan juga tingkat daya guna dan hasil guna suatu metode. Secara garis besar, metode pembelajaran dapat di klasifikasikan sbagai brikut :

1.              Gaya Pembelajaran Self Check Style (Periksa Diri)
Metode periksa diri lebih banyak keputusan yang digeser ke siswa.Kepada siswa sekarang diberikan keputusan sesudah pertemuan untuk menilai penampilannya. Dengan metode ini memungkinkan siswa menjadi lebih mandiri dalam melaksanakan tugasnya.
a.    Peranan Siswa
1)   Menilai penampilannya sendiri.
2)   Menetapkan kriteria untuk memperbaiki penampilannya sendiri.
3)   Belajar bersikap obyektif terhadap penampilannya.
4)   Belajar menerima keterbatasannya.
5)   Membuat keputusan baru dalam bagian pelajaran selama dan sesudah pertemuan.
b.      Implikasi Metode Periksa Diri
1)   Guru mendorong kemandirian siswa.
2)   Guru mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan memantau sendiri.
3)   Guru mempercayai siswa.
4)   Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada proses periksa sendiri dan pelaksanaan tugas.
5)   Siswa belajar sendiri.
6)   Siswa mengenali keterbatasannya, keberhasilannya dan kegagalannya sendiri.
7)   Siswa memakai umpan balik dari hasil periksa sendiri untuk mengusahakan perbaikan.

2.      Gaya PembelajaranInklusi (Inclusion Style)
Metodemengajarinklusimemperkenalkanbeberapatingkattugas, metodeinklusimemberikantugas yang berbeda-bedatingkatannya.Dalammetodeinisiswadidoronguntukmenentukantingkatpenampilannya.
Contohdarimetodeinklusidapatdilihatdaripenggunaantaliuntukmelompat.Jikatalidipentangkansetinggi 1 meter daritanah, dansetiapsiswadimintauntukmelompatinya, semuasiswaakanberhasil. Akan tetapikeberhasilantidakdiperolehsemuasiswadengantingkatkesulitan yang sama. Sebagiansiswaakanmelompatinyadenganmudah, sedangkansebagianlagiharusmengerahkankemampuannyauntukmelompatitali.Jikaketinggiantalidinaikkan, kesulitandalamtugasakanmeningkatdanakhirnyaakanmenyebabkanmakinsedikitjumlahsiswa yang akanberhasilmelompatinya.
Sekarang, jikatalidirentangkan miring danparasiswadiperintahkanuntukmelompat, parasiswaakanmenyebarsepanjangtalipadaberbagaiketinggian. Hal iniakanmemungkinkanuntukmelibatkanparasiswadenganberbagaitingkatkemampuannya..inijugaakanmemungkinkanparasiswauntukmemilihdimanadiaakanmemulaitugasnya.
a.    TujuanMetodeInklusi
ü Melibatkansemuasiswa.
ü Penyesuaianterhadapperbedaanindividu.
ü Memberikesempatanuntukmemulaipadatingkatkemampuansendiri.
ü Memberikesempatanuntukmemulaibekerjadengantugas-tugas yang ringankeberat, sesuaidengantingkatkemampuansiswa.
ü Belajarmelihathubunganantarakemampuanmerasadantugasapa yang dapatdilakukanolehsiswa
ü Individualisasidimungkinkan, karenamemilihdiantara alternative tingkattugas yang telahdisediakan.
b.      PelaksanaanMetodeInklusi
ü  Menjelaskanmetodeinikepadasiswa. Satudemonstrasidenganmenggunakantali yang miring akanmemberikanilustrasi yang sagatbagus.
ü  Siswadisuruhmemulai
ü  Amati danmemberiwaktubagisiswauntukmelakukanmetodeini
ü  Memberiumpanbalikkepadasiswatentangperanansiswadalampengambilankeputusandalampengambilankeputusanmemilihtugas-tugas :
-          Tanyakanbagaimanamerekamemilihtugas-tugas
-          Fokuskanperhatian-padapenggunaanumpanbalik yang netral, agar siswamengambilkeputusanmengenaitaraftugas yang sesuaidengankemampuannya.
-          Amati kesalahan-kesalahandalampenampilansiswadankriteria yang menyangkutpenampilandalamtugasnya.
c.       Implikasimetodeinklusi
ü Salah satukeuntungan yang sangatpentingdarimetodeiniadalahmemperhatikanperbedaanindividudanmemperhatikankemungkinan-kemungkinanuntukmajudanberhasil
ü Memungkinkansiswauntukmelihatketidaksesuaianantaraaspirasiataupengetahuanmerekadengankenyataan. Merekaakanbelajaruntukmengurangikesenjanganantarakeduahalini.
ü Fokusperhatianditujukankepadaindividudanapa yang diadapatlakukandaripadamembandingkannyadengan orang lain.
ü siswamengembangkankonsepmerekasendiri yang berkaitandenganpenampilanfisik.
d.   Memilih Dan MerancangPokokBahasan
ü  Konseptentangtingkatkesulitan. Tugas-tugas yang dipilihharusdimulaidari yang sederhanakeyanglebihunik, dengantiaptugasmempunyaitingkatkesulitan yang ditambahkan.
ü  Jikakitamenggunakanmenembakdalam bola basket sebagaicontohdaribeberapafaktor yang mempengaruhikesulitanadalah :
-       Rentanganjarakdari minimum kemaksimum
-       Tingginya basket
-       Ukuranlingkarandanukuran bola
-       Suduttembakan, dll.
ü  Kisi-kisifaktorberikutdapatdipakaisebagaialatuntukmenganalisistugas-tugasmenentukantingkatkesulitan.

3.      Gaya Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Teknik penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa memampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebainya. Suatu konsep misalnya: segi tiga, pans, demokrasi dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prisnsip antara lain ialah: logam apabila dipanaskan akan mengemabang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa (belajar sndiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situsi teacher learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning, ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri. Agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan teknik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, Maka teknik ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
-   Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.
-   Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
-   Dapat membangkitkan kegairahan belajar mengajar para siswa.
-   Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengankemampuannya masing-masing.
-   Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
-   Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.



Strategiituberpusatpadasiswatidakpada guru. Guru hanyasebagaitemanbelajarsaja, membantubiladiperlukan.
Walalupundemikianbaiknyateknikinitohmasihada pula kelemahan yang perludiperhatikanialah:
-       Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.
-       Bila kelas terlalu besar penggunaan teknikini akan kurang berhasil.
-       Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan.
-       Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertiansaja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
-       Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif.
Metodepembelajaran discovery (penemuan) adalahmetodemengajar yang mengaturpengajaransedemikianrupasehinggaanakmemperolehpengetahuan yang sebelumnyabelumdiketahuinyaitutidakmelaluipemberitahuan, sebagianatauseluruhnyaditemukansendiri.Dalampembelajaran discovery (penemuan) kegiatanataupembelajaran yang dirancangsedemikianrupasehinggasiswadapatmenemukankonsep-konsepdanprinsip-prinsipmelalui proses mentalnyasendiri. Dalammenemukankonsep, siswamelakukanpengamatan, menggolongkan, membuatdugaan, menjelaskan, menarikkesimpulandansebagainyauntukmenemukanbeberapakonsepatauprinsip.
Metode discovery diartikansebagaiprosedurmengajar yang mementingkanpengajaranperseorang, memanipulasiobjeksebelumsampaipadageneralisasi.Sedangkan Bruner menyatakanbahwaanakharusberperanaktifdidalambelajar.Lebihlanjutdinyatakan, aktivitasituperludilaksanakanmelaluisuatucara yang disebut discovery.
Discovery yang dilaksanakansiswadalam proses belajarnya, diarahkanuntukmenemukansuatukonsepatauprinsip.Discovery ialah proses mental dimanasiswamampumengasimilasikansuatukonsepatauprinsip. Proses mental yang dimaksudantara lain:mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuatdugaan, menjelaskan, mengukur, membuatkesimpulandansebagainya.
Denganteknikinisiswadibiarkanmenemukansendiriataumengalami proses mental sendiri, guru hanyamembimbingdanmemberikanintruksi. Dengandemikianpembelajaran discovery ialahsuatupembelajaran yang melibatkansiswadalam proses kegiatan mental melaluitukarpendapat, denganberdiskusi, membacasendiridanmencobasendiri, agar anakdapatbelajarsendiri.
Metodepembelajaran discovery merupakansuatumetodepengajaran yang menitikberatkanpadaaktifitassiswadalambelajar.Dalam proses pembelajarandenganmetodeini, guru hanyabertindaksebagaipembimbingdanfasilitator yang mengarahkansiswauntukmenemukankonsep, dalil, prosedur, algoritmadansemacamnya.
Tigaciriutamabelajarmenemukanyaitu:
a.    mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan
b.    Berpusat pada siswa
c.    kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Blake et al membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu:
a.    mengklarifikasi
b.    menarik kesimpulan secara induksi
c.    pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
a.    identifikasi kebutuhan siswa;
b.    seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
c.    Seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
d.   membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
e.    mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
f.     mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
g.    memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
h.    membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
i.      memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
j.      merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
k.    membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini:
a.         Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif;
b.        Dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa;
c.         Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;
d.        Dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri;
e.         Siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.

Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu:
a.       pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat;
b.      Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya;
c.       Secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
a.         Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
b.        Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
c.         Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
d.        Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
e.         Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
4.      Gaya Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif
Reys, et.al. (1989) menjelaskan pembelajaran pemecahan masalah dapat efektif dan sesuai dengan tujuan, diperlukan beberapa faktor pendukung yaitu:  perencanaan, waktu, sumber belajar-media, pengelolaan kelas serta teknologi. Perencanaan waktu harus efektif dan disesuaikan dengan kemampuan dan proses berpikir siswa. Guru setidaknya mampu memperkirakan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan beberapa soal. Guru perlu menyiapkan alat-alat peraga manipulatif untuk siswa dalam membantu memahami dan memecahkan masalah.
Hal penting  yang perlu diperhatikan juga adalah pengelolaan kelas termasuk juga aktivitas siswa. Guru merancang pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah dapat secara individu, klasikal atau kelompok. Yang paling sesuai dengan kegiatan pemecahan masalah adalah kerja kelompok  yang mana siswa dapat berdiskusi, bertukar pikiran untuk memecahkan persoalan, di samping itu mengajarkan siswa untuk bekerja sama dalam menghadapi permasalahan.
Rangkuman hasil penelitian tentang pembelajaran pemecahan masalah yang dilakukan oleh Reys:
-       Strategi pembelajaran pemecahan masalah harus diajarkan secara khusus sampai siswa dapat memecahkan permasalahan dengan benar.
-       Beberapa macam strategi dapat digunakan dalam setiap tahapan pemecahan masalah karena tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh permasalahan.
-       Siswa dapat dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal, atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu persoalan. 
-       Siswa perlu dilatih menghadapi masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya dan harus didorong untuk mencoba dengan berbagai alternatif pendekatan pemecahan. 
-       Perkembangan siswa berhubungan dengan kemampuan dan prestasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu, tingkat kesulitan masalah yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan siswa.

a.    Penilaian dalam Pemecahan Masalah
Penilaian untuk pembelajaran pemecahan masalah  harus dapat menilai keseluruhan proses pemecahan masalah. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. Jika soal ditampilkan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin, maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya.
Krulik dan Rudnik (1995) menjelaskan beberapa metode penilaian untuk pembelajaran pemecahan masalah, yaitu : observasi, jurnal meta kognitif, paragraf kesimpulan (summary paragraph), test, dan portofolio. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda, masalah-masalah terbuka (open ended), dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak.
Penilaian terhadap tes kinerja dapat menggunakan rubrik, baik rubrik holistik maupun rubrik analitik.

b.      Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu.

Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar